nasib pembunuh husain bin ali
Berikutkeutamaan membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat. Surat ini merupakan surat Makkiyah atau surat yang diturunkan pada periode Makkah. Al-Kahfi merupakan surat ke-18 dalam Al-Quran yang
Semogakita terselamatkan dari Azab dan MurkaNya Allah SWT di dunia dan di akhirar, aamiin. _____NOTE : UNTUK KEBENARANNYA HANYA ALLAH Y
Kemudianaku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan pamanku tentang apa yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin Abu Thalib ra.) tentang cara keluar baginda dan masuk baginda, tentang cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.
ImamHusain a.s. dan rombongan meneruskan perjalanannya. Beliau belum mendapat berita terbaru dari Kufah hingga tiba di daerah Tsa'labiyah. Di daerah inilah Imam Husain a.s. menerima kabar buruk dari Kufah. Mendengar kabar itu Imam Husain mengutus Abdullah bin Yaqthir untuk menemui Muslim demi memperjelas keadaan sebenarnya.
Demikianjuga pembunuh keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah. Ketika keluarga beliau radhiyallahu 'anhu mendatangi Yazid bin Mua'wiyah, Yazid memuliakan mereka dan mengantarkan mereka ke Madinah. Husain bin Ali. Husain bin 'Alī bin Abī Thālib. Ia terbunuh sebagai syahid pada Pertempuran Karbala tahun 680 Masehi
Rencontre Gratuite En Ligne Sans Inscription. SIAPAKAH PEMBUNUHNYA ❓ Saat Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu anhuma pada tahun 60 H meninggal, anaknya yang bernama Yazid dibai’at sebagai khalifah. Adapun Husain bin Ali radhiallahu anhuma dan Abdullah bin Zubair termasuk yang enggan berbai’at kepada Yazid. Mereka berdua berangkat menuju Makkah dan menetap di sana. Kaum muslimin banyak yang mendatangi Husain radhiallahu anhu untuk mendengar ilmu dan wejangan dari beliau. Adapun Ibnu Zubair radhiallahu anhu menetap di tempat ibadahnya di sisi Ka’bah. Tidak berapa lama kemudian, berdatanganlah surat-surat yang berasal dari penduduk Kufah yang menghendaki kedatangan Husain radhiallahu anhu ke negeri mereka agar mereka segera membaiatnya sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah. Yang pertama kali mendatangi Husain radhiallahu anhu adalah Abdullah bin Saba’, al-Hamdani, dan Abdullah bin Wal. Mereka membawa surat yang berisi ucapan selamat atas kematian Muawiyah radhiallahu anhu. Setelah itu, disusul oleh ratusan surat yang meminta Husain radhiallahu anhu untuk segera datang ke Kufah. Akhirnya Husain radhiallahu anhu mengutus anak pamannya yang bernama Muslim bin Aqil bin Abi Thalib ke Irak untuk meneliti duduk permasalahan sebenarnya dan kesepakatan mereka. Apabila hal ini sesuatu yang jelas dan mesti, Husain akan berangkat bersama keluarga dan kerabatnya. Tatkala Muslim bin Aqil tiba di Kufah, beliau singgah di rumah Muslim bin Ausajah al-Asadi. Ada pula yang berkata bahwa beliau singgah di rumah Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Wallahu a’lam. Penduduk Kufah berbondong-bondong mendatangi Muslim untuk membaiatnya atas nama kepemimpinan Husain radhiallahu anhu. Jumlah mereka mencapai orang. Akhirnya, Muslim mengirim surat kepada Husain radhiallahu anhu agar segera datang ke Kufah karena pembaiatan telah siap. Husain radhiallahu anhu bersiap berangkat dari Makkah menuju Kufah. Berita kedatangan Husain radhiallahu anhu kian tersiar dan sampai kepada an-Nu’man bin Basyir radhiallahu anhuma yang ketika itu menjadi Gubernur Kufah bagi pemerintahan Yazid. Beliau seakan-akan tidak peduli dengan semakin gencarnya isu pembaiatan terhadap Husain radhiallahu anhu. Berita ketidakpedulian Nu’man radhiallahu anhuma sampai kepada Yazid. Yazid melengserkan Nu’man radhiallahu anhuma dari kedudukannya dan memerintah Ubaidullah bin Ziyad untuk menguasai Kufah dan Basrah sekaligus. Yazid berpesan kepada Ibnu Ziyad, “Jika engkau datang ke Kufah, carilah Muslim bin Aqil. Jika engkau mampu membunuhnya, bunuhlah.” Ibnu Ziyad berangkat dari Basrah menuju Kufah. Tatkala memasuki Kufah, ia menutup wajahnya dengan sorban hitam. Setiap kali dia melewati sekumpulan manusia, ia berkata, “Assalamu’alaikum.” Mereka menjawab, “Waalaikassalam, selamat datang wahai anak Rasulullah.” Mereka menyangka bahwa dia adalah Husain radhiallahu anhu, karena memang telah menunggu kedatangannya sampai akhirnya banyak penduduk mengerumuninya. Muslim bin Amr berkata, “Mundurlah kalian, ini adalah Gubernur Ubaidullah bin Ziyad.” Tatkala mereka mengetahui bahwa itu bukan Husain, mereka bersedih. Ubaidullah akhirnya yakin bahwa hal ini adalah kesungguhan. Dia kemudian memasuki istana Gubernur Kufah dan mengutus Ma’qil, maula Ubaidullah bin Ziyad, untuk meneliti keadaan dan melacak siapa dalang utama yang mengatur pembaiatan terhadap Husain radhiallahu anhu. Ma’qil berangkat dengan membawa uang dirham sambil menyamar sebagai orang yang berasal dari Hims yang datang untuk membaiat Husain radhiallahu anhu. Dia terus berlemah lembut hingga ditunjukkan kepadanya tempat Muslim bin Aqil dibaiat; yaitu rumah milik Hani bin Urwah. Akhirnya, dia mengetahui bahwa Muslim bin Aqil merupakan otaknya. Dia pun kembali dan mengabarkan hal ini kepada Ubaidullah. Setelah Muslim bin Aqil merasa bahwa segala sesuatu telah siap, dia mengirim berita kepada Husain radhiallahu anhu untuk segera datang ke Kufah. Husain akhirnya berangkat menuju Kufah, sementara Ubaidullah mengetahui apa yang dilakukan oleh Muslim bin Aqil. Keberangkatan Husain radhiallahu anhu bertepatan pada hari tarwiyah. Tatkala Husain radhiallahu anhu hendak berangkat, para sahabat Rasulullah g yang masih hidup ketika itu berusaha mencegah keberangkatan beliau. Di antara yang berusaha mencegahnya adalah Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma. Ketika itu Ibnu Umar sedang berada di Makkah. Tatkala mendengar Husain radhiallahu anhu menuju Irak, ia menyusulnya dalam perjalanan selama 3 malam. Setelah bertemu Husain, Ibnu Umar bertanya, “Hendak kemana engkau?” Husain menjawab, “Menuju Irak.” Sambil memperlihatkan surat-surat yang dikirim dari Irak kepadanya, “Ini surat-surat dan bai’at mereka.” Ibnu Umar berkata, “Jangan engkau datangi mereka.” Husain bersikeras berangkat sehingga Ibnu Umar berpesan, “Aku memberitakan kepadamu satu hadits, bahwa Jibril q mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu memberi pilihan kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam antara dunia dan akhirat. Beliau shallallahu alaihi wa sallam memilih akhirat dan tidak menghendaki dunia. Sesungguhnya engkau adalah bagian dari diri beliau. Demi Allah, jangan sekali-kali ada di antara kalian yang memilih dunia. Tidaklah Allah azza wa jalla palingkan kalian darinya kecuali kepada sesuatu yang jauh lebih baik.” Namun, Husain enggan untuk kembali. Ibnu Umar radhiallahu anhuma menangis dan berkata, “Aku titipkan dirimu kepada Allah azza wa jalla agar tidak menjadi orang yang terbunuh.” Selain Ibnu Umar radhiallahu anhuma, yang berusaha mencegah beliau adalah Abdullah bin Abbas, Abu Sa’id al-Khudri, dan Abdullah bin Zubair g. Di Kufah, Ubaidullah yang telah mengetahui bahwa Muslim bin Aqil bersembunyi di balik Hani bin Urwah, memanggil Hani ke istananya. Ubaidullah bertanya, “Di manakah Muslim bin Aqil berada?” Hani menjawab, “Saya tidak tahu.” Ubaidullah bin Ziyad memanggil Ma’qil yang pernah menyamar menjadi seorang dari Hims untuk membaiat Husain radhiallahu anhu. Ubaidullah bertanya, “Apakah engkau mengenal orang ini?” Hani menjawab, “Ya.” Hani pun kebingungan. Akhirnya ia mengetahui bahwa hal ini ternyata makar dari Ubaidullah bin Ziyad. Ubaidullah bertanya, “Di mana Muslim bin Aqil?” Hani menjawab, “Demi Allah, seandainya dia berada di bawah kakiku, aku tidak akan mengangkatnya.” Ubaidullah memukul wajah Hani dengan tongkat hingga melukai bagian keningnya dan mematahkan hidungnya. Dia lalu memerintahkan agar Hani dipenjara. Muslim bin Aqil mendengar berita Hani ditahan. Ia mengerahkan para pendukungnya sejumlah orang penduduk Kufah. Di antara mereka ialah Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi yang memegang bendera hijau, dan Abdullah bin Harits bin Naufal yang memegang bendera merah. Keduanya diatur menjadi pasukan sayap kanan dan kiri. Mendengar Muslim bin Aqil datang, Ubaidullah dan yang bersamanya segera memasuki istana dan menutup gerbangnya. Sebagian pemimpin kabilah yang berada di pihak Ubaidullah menasihati kaumnya agar meninggalkan Muslim bin Aqil. Sebagian lagi diperintahkan oleh Ubaidullah untuk mengelilingi Kufah untuk menghalangi bantuan kepada pasukan Muslim bin Aqil. Mereka pun melakukannya. Sampai-sampai, seorang wanita berkata kepada anak dan saudaranya, “Kembalilah, yang lain telah mencukupimu.” Seorang lelaki berkata, kepada anak dan saudaranya, “Sepertinya besok pasukan dari negeri Syam akan tiba. Apa yang dapat engkau perbuat menghadapi mereka?” Akhirnya mereka yang berkumpul bersama Muslim meninggalkannya satu per satu. Belum tiba sore hari, jumlah pasukan Muslim tersisa 500 orang, lalu menjadi 300 orang, kemudian menjadi 30 orang. Beliau shalat Maghrib bersama jamaahnya yang tersisa 10 orang. Setelah selesai shalat, Muslim pun tinggal sendirian, beliau bingung hendak pergi ke mana. Ia pun mengetuk salah satu rumah, keluarlah seorang wanita. Muslim berkata, “Berilah aku air.” Wanita itu memberikan air kepadanya. Muslim menceritakan tentang jati dirinya, “Penduduk Kufah telah berdusta dan menipuku,” ujarnya. Wanita itu memasukkan Muslim ke dalam rumah yang berdampingan dengan rumahnya. Anak wanita tersebut, Bilal bin Asid, mengetahui keberadaan Muslim. Ia segera memberitakan hal ini kepada Ubaidullah bin Ziyad. Abdurrahman bin Muhammad bin al-Asy’ats memberitakan kepada ayahnya, Muhammad bin Asy’ats yang sedang berada di sisi Ibnu Ziyad. Ibnu Ziyad mengutus 70 orang tentara berkuda untuk mengepung rumah tempat Muslim berdiam. Muslim sempat melakukan perlawanan, meski akhirnya menyerahkan diri dan dibawa ke istana Ibnu Ziyad. Ibnu Ziyad berkata kepada Muslim, “Aku akan membunuhmu.” Muslim berkata, “Beri aku kesempatan untuk memberi wasiat.” Ibnu Ziyad berkata, “Silakan beri wasiat.” Muslim melihat di sekelilingnya lalu menatap Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Muslim berkata, “Engkau orang yang paling dekat hubungan kerabatnya denganku. Kemarilah, aku ingin memberi wasiat kepadamu.” Muslim berpesan kepadanya agar menyampaikan kepada Husain radhiallahu anhu, “Kembalilah engkau bersama keluargamu. Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya mereka telah berdusta kepadamu dan kepadaku. Dan pendusta tidak pantas memiliki pendapat.” Setelah itu, dipenggallah kepala Muslim radhiallahu anhu oleh Bukair bin Humran. Ini terjadi pada hari Arafah bulan Dzulhijjah. Sementara itu, Husain telah berangkat dari Makkah pada hari tarwiyah. Setiba Husain radhiallahu anhu di Qadisiah, beliau mendengar berita terbunuhnya Muslim bin Aqil melalui utusan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Husain radhiallahu anhu ingin kembali dan berdiskusi dengan anak-anak Muslim bin Aqil. Anak-anaknya menjawab, “Tidak, demi Allah, kami tidak akan kembali hingga kami membalas kematian ayah kami.” Akhirnya, Husain radhiallahu anhu mengikuti kemauan mereka. Setelah Ubaidullah bin Ziyad mengetahui bahwa Husain tetap berangkat menuju Irak, ia memerintahkan al-Hur bin Yazid at-Tamimi keluar membawa tentara sebagai pasukan pembuka yang akan menemui Husain radhiallahu anhu di tengah perjalanan. Al-Hur menemui Husain di Qadisiah dan bertanya, “Hendak kemana wahai anak dari anak perempuan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Menuju Irak.” Al-Hur memerintahkan Husain untuk kembali atau menuju Syam dan tidak memasuki Kufah. Namun, Husain tidak mengindahkannya. Tatkala Husain radhiallahu anhu tiba di Karbala, beliau bertanya, “Tempat apakah ini?” Dijawab, “Karbala.” Husain berkata, “Karbun wa bala kesulitan dan bencana.” Setelah itu, tibalah pasukan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash dengan tentara yang berusaha membujuk Husain radhiallahu anhu agar mendatangi Irak untuk bertemu dengan Ubaidullah bin Ziyad. Tatkala Husain melihat bahwa urusannya semakin genting, Husain berkata kepada Umar bin Sa’ad, “Aku memberimu tiga pilihan, silahkan engkau pilih. 1 Engkau membiarkan aku kembali, 2 Aku pergi ke salah satu tempat berjihad kaum muslimin, atau 3 Aku mendatangi Yazid agar aku dapat meletakkan tanganku di bawah tangannya di Syam.” Umar menjawab, “Ya. Silakan engkau kirim utusan kepada Yazid, dan aku mengirim utusan kepada Ubaidullah untuk melihat keputusannya.” Namun, Husain tidak mengirim utusan kepada Yazid, sementara Umar telah mengirim utusan kepada Ubaidullah. Setibanya utusan Umar di hadapan Ubaidullah dan menceritakan apa yang dikatakan Husain radhiallahu anhu, pada awalnya Ubaidullah menyetujui pilihan mana saja. Namun, di sisi Ubaidullah ada seorang yang bernama Syamir bin Dzil Jausyan, termasuk orang yang sangat dekat dengan Ubaidullah. Ia berkata, “Tidak demi Allah, hingga dia tunduk kepada hukum yang engkau tetapkan.” Ubaidullah akhirnya menyetujui usulan Syamir dan berkata, “Ya, hingga ia tunduk kepada hukumku.” Ubaidullah kemudian mengutus Syamir dan mengambil alih kepemimpinan Umar bin Sa’ad. Setelah Husain radhiallahu anhu mengetahui berita bahwa dia harus tunduk kepada hukum Ubaidullah, beliau berkata, “Tidak demi Allah, Aku tidak akan tunduk kepada hukum Ubaidullah sama sekali.” Jumlah pasukan berkuda yang bersama Husain radhiallahu anhu ada 70 orang, sementara pasukan yang berasal dari Kufah berjumlah orang. Pada hari Jumat, pertumpahan darah tak terelakkan tatkala Husain radhiallahu anhu enggan menjadi tahanan bagi Ubaidullah bin Ziyad. Dua kekuatan yang tidak seimbang. Satu-satunya keinginan pasukan Husain radhiallahu anhu adalah meninggal sebagai pembela Husain radhiallahu anhu. Satu per satu mereka gugur hingga tidak tinggal seorang pun selain Husain radhiallahu anhu dan anaknya, Ali bin Husain radhiallahu anhuma, yang ketika itu dalam keadaan sakit. Sepanjang hari Husain radhiallahu anhu sendirian, tidak seorang pun berani mendekatinya. Mereka tidak ingin menjadi pembunuh Husain radhiallahu anhu. Hingga datanglah Syamir bin Dzil Jausyan yang dengan lantang, “Celaka kalian, kepung dia dan bunuhlah dia.” Mereka mengepung Husain hingga beliau berkeliling dengan pedangnya sambil membunuh siapa saja yang mendekatinya. Namun, jumlah yang banyak tetap saja mengalahkan sikap kepahlawanan beliau. Syamir pun berteriak, “Apa yang kalian tunggu? Majulah kalian.” Mereka pun merangsek maju mendekati Husain. Syamir termasuk yang membunuh Husain radhiallahu anhu dengan tangannya. Sinan bin Anas an-Nakha’i adalah orang yang memenggal kepala beliau. Jadi, Siapa yang Membunuh Husain? Telah sepakat referensi Syiah dan Ahlus Sunnah bahwa yang membunuh Husain radhiallahu anhu adalah kaum Syiah sendiri. Dalam kitab-kitab Syiah, diriwayatkan bahwa Ali bin Husain yang dikenal dengan sebutan “Zainul Abidin”, berkata mencela kaum Syiah yang telah menipu dan membunuh ayahnya, Husain radhiallahu anhu, “Wahai sekalian manusia, aku menuntut kalian karena Allah. Apakah kalian mengetahui bahwa kalian menulis surat kepada ayahku dan kalian telah menipunya? Kalian berikan kepadanya janji dan bai’at, lantas kalian membunuh dan menelantarkannya. Sungguh, celaka apa yang dilakukan oleh diri kalian dan buruknya sikap kalian. Dengan pandangan apa kalian melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat beliau berkata kepada kalian, Kalian telah membunuh keluargaku. Kalian telah merusak kehormatanku. Kalian bukanlah dari umatku’.” Terangkatlah suara tangisan para wanita tangisan dari setiap sudut diselingi ucapan mereka kepada yang lain, “Kalian telah binasa dengan apa yang kalian ketahui.” Ali bin Husain lalu berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang menerima nasihatku, dan memelihara wasiatku tentang Allah, Rasul-Nya, serta keluargaku. Sesungguhnya pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ada suri teladan yang baik bagi kita.” ath-Thabrasi dalam kitab al-Ihtijaj, 2/32; Ibnu Thawus dalam al-Malhuf, hlm. 92 Ketika al-Imam Zainul Abidin melihat penduduk Kufah meratap dan menangis, beliau menghardik mereka sambil berkata, “Kalian meratap dan menangis karena kami?! Siapa yang membunuh kami?!” al-Malhuf, hlm. 357, Maqtal al-Husain, Murtadha Iyadh, hlm. 83 Ummu Kultsum bintu Ali radhiallahu anhuma berkata, “Wahai penduduk Kufah, aib bagi kalian. Mengapa kalian tidak menolong Husain, namun justru membunuhnya. Kalian merampas hartanya lalu kalian warisi. Kalian menahan para wanitanya dan membuatnya binasa. Celaka kalian! Keanehan apa yang kalian lakukan? Dosa apa yang kalian pikul di atas punggung kalian? Darah apa yang telah kalian tumpahkan? Kemuliaan apa yang telah kalian raih? Anak wanita siapa yang telah kalian hilangkan kehormatannya? Harta apa yang telah kalian rampas? Kalian telah membunuh orang-orang terbaik setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan keluarganya. Telah dicabut rasa kasih sayang dari hati-hati kalian.” al-Malhuf, hlm. 91, Maqtal al-Husain, Murtadha Iyadh, hlm. 86 Demikian pula yang diucapkan oleh Zainab bintu Ali radhiallahu anhuma, “Wahai penduduk Kufah, kaum lelaki kalian membunuh kami, tetapi para wanita kalian menangisi kami. Yang menjadi hakim antara kami dan kalian adalah Allah azza wa jalla, pada hari ditetapkannya segala keputusan.” Ridha bin Nabi al-Qazwini dalam Tazhallumu az-Zahra, hlm. 264 Kazhim al-Ahsa’i berkata, “Sesungguhnya, pasukan yang keluar untuk memerangi Imam Husain radhiallahu anhu berjumlah orang. Seluruhnya adalah penduduk Kufah. Tidak ada seorang pun yang berasal dari Syam, Hijaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, dan Afrika. Bahkan, mereka seluruhnya adalah penduduk Kufah, yang berkumpul dari berbagai kabilah.” Asyura, hlm. 89 Husain bin Ahmad al-Baraqi an-Najafi mengatakan, “Termasuk yang dicerca dari penduduk Kufah ialah tindakan mereka menusuk Hasan bin Ali radhiallahu anhuma dan membunuh Husain radhiallahu anhuma setelah mereka memanggilnya.” Tarikh al-Kufah, hlm. 113 Muhsin al-Amin berkata, “Dua puluh ribu penduduk Irak yang telah membai’at Husain, menipu dan melakukan perlawanan terhadapnya. Bai’at berada di pundak mereka, sementara mereka membunuhnya.” A’yanu asy-Syiah, 1/26 Murtadha Muthahhari, salah seorang tokoh Syiah Rafidhah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa Penduduk Kufah adalah termasuk Syiah pengikut Ali radhiallahu anhu. Yang membunuh Husain radhiallahu anhu adalah Syiah sendiri.” al-Malhamah al-Husainiyah, 1/129 Ia berkata pula, “Kami juga mengatakan bahwa terbunuhnya Husain radhiallahu anhu di tangan kaum muslimin, tetapi di tangan kaum Syiah setelah 50 tahun kematian Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini membingungkan dan tanda tanya mengherankan yang sangat menarik perhatian.” al-Malhamah al-Husainiyah, 3/95. Wallahu a'lam Bishowab. Disusun dari majalah Asysyariah Online. Oleh Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari Hafizhahullah. Diskrip/Dishare dan Disusun Ulang Abu Abdillah Muhammad Al Maidaniy. 📚 Ahlussunnah Tanah Karo 📚
loading...Ilustrasi Imam Husain bin Ali radhiallahu anhu cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW ketika syahid di pertempuran Karbala Irak. Foto/Ist Husain bin Ali radhiallahu 'anhu حسين بن adalah cucu kesayangan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam yang merupakan putra dari Sayyidah Fatimah az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA . Berikut karomah beliau seperti diceritakan dalam buku "Kisah Karomah Wali Allah" karangan Syeikh Yusuf bin Ismail Syihab al-Zuhri menuturkan bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhanAl- Husain mendapat siksa di dunia. Ada yang dibunuh, buta, wajahnya menghitam, atau kehilangan kekuasaan dalam waktu singkat. Di antara yang mengalaminya adalah Abdullah bin Khashin. Baca Juga Ketika pihak Yazid bin Muawiyah dan Husain berperang dan mereka menghalangi Husain untuk mendapatkan air, Abdullah memanggil Husain lalu berkata, "Hai Husain ! Tidakkah kamu lihat air itu seolah-olah berada di tengah-tengah langit. Demi Allah, kamu tidak akan merasakan setetes air pun, sampai kamu mati kehausan." Kemudian Husain berdoa, "Ya Allah, semoga dia mati kehausan".Lalu Abdullah meminum air itu tanpa henti tetapi dahaganya tidak hilang juga, sampai ia mati kehausan. Dikemukakan oleh Imam al-Syali Ba’lawi dalam kitab Al Masyru’ al-Marwi Dalam kisah lain diceritakan bahwa Husain berdoa ketika hendak meminum air yang dibawanya, tiba- tiba seorang laki-laki yang dikenal sebagai seorang penakut memanah Husain. Anak panah itu mengenai langit-langit mulut Husain sehingga ia tidak bisa minum. Lalu Husain RA berdoa, "Ya Allah, berikan rasa haus kepadanya". Maka orang yang keji itu berteriak-teriak karena perutnya kepanasan dan punggungnya kedinginan. Kemudian di depannya diletakkan es dan kipas, sementara di belakangnya diletakkan tungku perapian, dia berteriak, "Beri aku minum!" Baca Juga Lalu ia diberi satu wadah besar berisi arak, air, dan susu, yang cukup untuk lima orang. Ia meminumnya, tetapi ia tetap berteriak kehausan. Ia diberi minum lagi dengan ukuran semula, lalu meminumnya sampai perutnya kembung seperti perut unta. Dituturkan oleh Ibnu Hajar dalam Kitab Al- Shawa'iqAl-Syali juga menceritakan bahwa ada seseorang yang hanya menghadiri pembunuhan Husain , lalu ia menjadi buta. Ketika ditanya tentang sebab kebutaannya, ia menceritakan bahwa ia melihat Nabi SAW memegang pedang, dan di depan beliau terhampar tikar dari kulit. Ia juga melihat 10 orang pembunuh Husain disembelih di hadapan Nabi. Nabi mencela dan mencemoohnya karena telah ikut mendukung para pembunuh Nabi menempelkan celak dari darah Husain ke matanya, lalu ia menjadi buta. Dalam Kisah lain, Asy-Syali menceritakan bahwa ada seseorang yang menggantung kepala Husain dengan tali pelana kudanya. Beberapa hari kemudian, wajahnya tampak lebih hitam daripada aspal. Ada seseorang yang berkata kepadanya, "Anda adalah orang Arab yang paling hitam wajahnya". Dia berkata, "Pada malam ketika aku memegang kepala Husain itu, lewatlah dua orang yang mencengkeram lenganku. Mereka menggiringku ke arah api yang menyala-nyala dan mendorongku masuk ke dalamnya. Aku hanya bisa menunduk lemah, api itu menghanguskan kulitku sehingga hitam legam seperti yang kau lihat". Akhirnya ia tewas dalam kondisi mengenaskan. Husain yang merupakan adik kandung dari Imam Hasan RA wafat dalam pertempuran Karbala yang terjadi di Karbala Irak. Beliau syahid pada hari Jumat, bulan Asyura Muharram, 61 Hijriyah. Semoga Allah Ta'ala meridhoinya. Baca Juga Wallahu Ta'ala A'lamrhs
Kisah Tragis para pembunuh Sayyidina Husein. Jikalau saja Rasulullah SAW masih hidup, tentu beliau sangat sedih melihat cucu kesayanganya wafat dibantai habis habisan. Dahulu saja, ketika nabi ditinggal wafat orang orang tercinta seperti sang istri siti Khadijah dan sang paman Abu Thalib, beliau amat sedih dan kehilangan. Bahkan tahun itu dijuluki sebagai Amul Husni yang berarti tahun kesedihan. Namun Allah SWT tentu sangat Adil. Orang orang yang berani mendzalimi dzuriyah Nabi Muhammad SAW, banyak dari mereka yang hidupnya sengsara bahkan mengalami kematian yang tragis. Berikut kisah selengkapnya Imam ibnu Katsir menjelaskan dalam Kitab Bidayah wanihayah, bahwa yang menghabisi dan memotong kepala Sayyidina Husein dengan tombak yaitu Sinan bin Anas. Setelah kepala Sayyidina Husein putus, kemudian kepala itu dibawa dan diserahkan kepada Hawali bin Yazid. Selain itu, ketika kepala sayyidina husein di bawa kepada Ubaidilah bin Ziyad, ia lalu memainkan kepala sayyidina husein dengan ujung tongkatnya sampai mengenai mulut dan hidung SAyyidina Husein. Imam ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ada tujuh puluh dua pengikut sayyidina husein yang terbunuh. Dalam kitab Tarikh Alkhulafah, imam suyuti menulis setidaknya ada empat ribu pasukan yang mengepung sayyidina husein dan rombongan. Pasukan itu di kendalikan oleh umar bin saad bin Abi Waqos. Saat terjadinya pembantaian karbala, dunia ini seakan akan behenti selama tujuh hari. Matahari terlihat meratap seperti kain kuning, dan terjadi gerhana matahari dihari itu. Tanda tanda alam lainnya juga muncul, penampakan langit kala itu berwarna memerah enam bulan lamanya. Sungguh menyedihkan peristiwa itu. Dikisahkan juga, Rasulullah SAW dahulu pernah menyaksikan cucunya dibunuh. Imam suyuti mengutip riwayat imam Tirmidzi dari salma. Dahulu, Salma pernah menemui istri Nabi Muhammad yaitu Ummu Salamah yang masih hidup kala itu, beliau menangis. Tragedi karbala dahulu terjadi pada tahun 61 H, sedangkan Ummu Salamah Wafatnya tahun 64 H, Jadi beliau masih menjumpai masa terbunuhnya sayyidna husein. Salma lalu bertanya kepada Ummu Salamah “Kenapa engkau menangis?” Ummu salamah menjawab “Tadi malam diriku mimpi melihat Rasulullah yang kepala dan jenggot beliau berdebu. Aku bertanya,’Kenapa engkau ya Rosul?’ Rasul menjawab, Diriku barusaja menyaksikan pembunuhan Husein’. Ya Allah, begitulah dasyatnya konflik, dan pertarungan kekuasaan zaman dulu. Hanya demi supaya bisa mendapatkan kursi jabatan khalifah, banyak orang buta hatinya sampai tega menghabisi nyawa cucu Nabi. Apa mereka pikir Nabi tidak tahu perbuatan biadab mereka…?, masihkan mereka mengharapkan syafaat nabi kelak diakhirat?. Diantara orang yang terlibat dalam pembantaaian sayyidina Husein adalah umar bin saad bin Abi Waqos. Padahal ia adalah anaknya Sahabat Nabi yang bernama Sahabat saad. Sahabat Saad bin Abi Waqos adalah salah satu sahabat Nabi yang dijamin Rasulullah SAW menjadi Ahli Surga. Namun sayangnya, anaknya yang bernama umar malah terlibat didalam pembantaian cucu Rasulullah SAW. Akhir hidup umar juga sangat malang, ia mati dipenggal oleh Abu Amar Kaisan atas perintah Muhtar Tsaqafi. Kepalanya lalu diberikan kepada Muhammad bin Hanafiyah. Tokoh kedua yang terlibat dalam pembantaain sayyidina husein adalah Ubaidillah bin Ziyad. Ia kala itu menjadi gubernur kufah. Dia jugalah yang mengirim 4000 pasukan untuk mengepung sayyidina husein. Nasib akhir hidup ubaidillah juga sangat tragis, ia dipenggal juga oleh pasukan Muhtar hingga putus kepalanya. pada riwayat lain, dikisahkan bahwa jenazah kepalanya kala itu pernah dimasuki ular, ular itu tinggal dikepala Ubaidillah hingga beberapa saat, setelah itu ular keluar lagi . Orang selanjutnya yang terlibat dalam pembantaain sayyidina husein adalah Samir bin ziajausan. Ia adalah pimpinan tim sayap kiri pasukan yang melakukan serangan kepada sayyidina husein. Diketahu sebelumhya, bahwa Samir ini dulunya adalah sahabat Khalifah Ali bin Abi Thalib. Namun, dikala masa kekuasaan Dinasti Umayyah, ia malah berhaluan membenci Keluarga khalifah Ali. Nasib akhir hidup Samir juga tak kalah tragis, ia mati setelah kepalanya dipenggal oleh Pasukan mukhtar Tsaqaf. Kepalanya lalu diberikan kepada Muhammad bin Hanafiyah, sedangkan tubuhnya menjadi santapan anjing. Orang yang terlibat dalam pembantaaain sayyidina husein selanjutnya adalah sinan bin anas. Setelah Khalifah Yazid bin Muawiyah wafat, sinan lalu merasa ketakutan. Ia lalu memilih bersembunyi sebab banyak orang yang tahu, bahwasanya dialah pembunuh sayyidina husein. Dikabarkan jugaa, bahwa sinan bin Anas mati setelah dibunuh oleh pasukan Muchtar Tsaqafi. Dan ada yang mengatakan juga, bahwa Sinan bin Anas wafat ketika masa kepemerintahan gubernur Hajaz di kufah. Kemudian, sosok yang terlibat dalam tragedi karbala selanjutnya adalah Hurmala bin Kahil Al-As’adi. Ia dikabarkan yang membunuh Putra sayyidina husein yang masih berumur 6 bulan yaitu Ali Azghar. Saat terjadinya pertempuran karbala, sayyidina husein sempat meminta air untuk putranya yang sedang kehausaan. Namun biadabnya Hurmala malah melesatkan anak panah keleher bayi itu. Akhir hidupnya Hurmala bin kahil juga mengalami kisah tragis, ia mati setelah dieksekusi oleh pasukan mukhtar. Tokoh yang terlibat dalam pembantai sayyidina husein selanjutnya adalah khali bin yazid. Dahulu, setelah kepala sayyidina husein dipenggal, ia lalu menyembunyikan kepala cucu nabi itu di kompor rumahnya. Kelakuan biadab ini kemudian menghantarkan dia kedalam tragedi tragis juga. Diketahui, khali bin yazid mati setelah diibunuh oleh pasukan mukhtar tsaqofi. Tidak hanya dibunuh, ia juga di bakar oleh pasukan mukhtar tsaqofi didepan rumahnya sendiri. Naudzubillah min dzalik. Itulah kisah tragis akhir hidup orang orang yang terlibat dalam pembantaian cucu Nabi Muhammad SAW di karbala. Lihat betapa hinanya mereka di dunia, hidupnya tidak tenang, dirundung kesalahan, dan berakhir dengan kematian tragis. Tentu kejadian kejadian itu baru siksa yang terlihat di dunia saja. belum lagi kelak ketika mereka sudah di akhirat, mereka akan dimintai pertanggung jawaban atas kezaliman mereka. Api Api nereka akan selalu menunggu para pendosa, orang orang zalim, dan suka menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Kita sebagai umat muslim, hendaknya selalu menghormati cucu dan dzuriyah Nabi Muhammad SAW. Karena didalam tubuh mereka, mengalir darah suci Nabi Muhammad SAW. Kisah sayyidina husein yang terjadi pada tanggal 10 muharram ini, tentu memberi pelajaran kepada kita agar selalu berada dalam jalan yang benar dan jangan suka menumpahkan darah orang yang tidak berdosa. Sayyidina Husein, meski akhir hidupnya mengenaskan, namun di akhirat, beliau telah sabdakan Nabi kelak menjadi pemimpinya para pemuda pemuda Juga Tradisi Kaum Syiah di Hari Asyuro Untuk Memperingati Peristiwa Karbala
JAKARTA, - Kisah terbunuhnya cucu Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib pada tanggal 10 Muharram 61 Hijriah merupakan peristiwa sejarah yang sangat memilukan bagi umat Islam. Pada hari itu, Sayyidina Husain, cucu Rasulullah Saw terbunuh di Karbala yang akhirnya dikenal dengan peristiwa ini dilakukan oleh kelompok pro-khalifah pada masa itu. Yaitu pendukung Yazid bin Mu’awiyah. Menurut beberapa pakar sejarah, meskipun sebenarnya khalifah Muawiyah tidak menghendaki tentang pembunuhan itu. Baca Juga Peristiwa itu memang sangat kejam dan tragis bagi siapa yang merenungkan ataupun membaca kisahnya. Sebab yang dibunuh adalah orang yang sangat dicintai Rasulallah sebuah hadis diriwayatkan mengenai peristiwa terbunuhnya Sayyidina Husain Baca Juga رُوِيَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ مَنْزِلِيْ إِذْ دَخَلَ عَلَيْهِ الْحُسَيْنُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَطَالَعْتُهُمَا مِنَ الْبَابِ وَإِذَا اَلْحُسَيْنُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى صَدْرِ النَّبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْعَبُ وَفِيْ يَدِ النَّبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِطْعَةٌ مِنْ طِيْنٍ وَدُمُوْعُهُ تَجْرِيْDiceritakan dari Ummi Salamah –radhiyallaahu anhaa- beliau berkata Adalah Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam didalam rumahku, tiba-tiba masuklah Husain radhiyallaahu anhu kepada beliau. Maka aku memandang keduanya dari itu Husain radhiyallaahu anhu bermain-main diatas dada Nabi shallallaahu alaihi wasallam, sementara ditangan Nabi shallallaahu alaihi wasallam ada sebongkah tanah, dan air mata beliau mengalirفَلَمَّا خَرَجَ الْحُسَيْنُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ دَخَلْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ بِأَبِيْ وَأُمِّيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ طَالَعْتُكَ وَفِيْ يَدِكَ طِيْنَةٌ وَأَنْتَ تَبْكِيْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيْ لَمَّا فَرِحْتُ بِهِ وَهُوَ عَلَى صَدْرِيْ يَلْعَبُ أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَنَاوَلَنِيْ اَلطِّيْنَةَ الَّتِيْ يُقْتَلُ عَلَيْهَا فَلِذَلِكَ بَكَيْتُDan ketika Husain radhiyallaahu anhu sudah keluar, maka akupun masuk kepada beliau, maka aku berkata “Dengan bapakku dan dengan ibuku kalimat aku melihat engkau, ditangan engkau ada tanah sambil engkau menangis, maka beliaupun bersabda kepadaku “Ketika aku bersuka-cita dengannya sementara dia diatas dadaku sambil bermain-main, maka datanglah Jibril alaihissalaam kepadaku. Dia memberiku tanah yang mana dia akan dibunuh diatasnya, maka karena itulah aku kitab Nuuruzhzhalaam karya Syeikh Nawawi al Bantani halaman 35وَرُوِيَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهَا اَلْقَارُوْرَةَ الَّتِيْ فِيْهَا تُرْبَةُ مَقْتَلِ الْحُسَيْنِ وَتُركِتْ عِنْدَهَاDiceritakan, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberinya Ummu Salamah sebuah botol yang di dalamnya ada tanah tempat dibunuhnya Husain. Botol tersebut ditinggalkan di لَمَّا جَاءَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِبْرِيْلُ وَأَخْبَرَهُ أَنَّ الْحُسَيْنَ مَقْتُوْلٌ فِي هَذَا التُّرَابِ وَأَرَاهُ مِنْ تُرْبَةِ الْأَرْضِ الَّتِيْ يُقْتَلُ فِيْهَا وَشَمَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ التُّرَابَ فَقَالَ وَيْحَ كَرْبَلَاءَ وَقَالَ لَهَا إِذَا صَارَ هَذَا التُّرَابُ دَمًا فَقَدْ قُتِلَ اِبْنِيْ اَلْحُسَيْنُHal itu adalah ketika Jibril mendatangi Nabi shallallaahu alaihi wasallam dan dia mengkhabarkan beliau bahwasanya Husain akan dibunuh diatas tanah ini, dan dia Jibril memperlihatkan kepada beliau dari tanahnya bumi dimana Husain akan dibunuh diatasnya, dan beliaupun mencium tanah tersebut seraya berkata “Celaka Karbala !”Dan beliau berkata kepada Ummu Salamah “Jika tanah ini sudah menjadi darah, maka anakku, Husain dibunuh.”فَانْتَبَهَتْ وَقَالَتْ لِجَارِيَتِهَا اِذْهَبِيْ إِلَى السُّوْقِ فَانْظُرِيْ مَا الْخَبَرُ فَرَجَعَتْ إِلَيْهَا الْجَارِيَةُ وَقَالْتْ قُتِلَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُDan ketika dilihatnya tanah menjadi darah maka terperanjatlah Ummu Salamah. Dia berkata kepada budak perempuannya “Pergilah engkau kepasar. Lihatlah ada berita apa disana.”. diapun pergi kepasar dan pulanglah dia ke Ummu Salamah. Dia berkata Husain bin Ali radhiyallaahu anhu dibunuh.”Wallahu A'lam PISS-KTB Editor Kastolani Marzuki Follow Berita iNewsMaluku di Google News
Hanif Qordowi Sejarah Thursday, 21 Oct 2021, 1626 WIB Sejarah terbunuhnya Ali Bin husein Dalam menyikapi para sahabat dan orang shaleh di masa lalu adalah mencari informasi dari jalur yang shahih , untuk itu narasi sejarah jika tidak menampilkan riwayat yang shahih akan mengakibatkan fitnah besar orang orang yang memiliki kedekatan dengan rasul , harus di ingat baik baik bahwa yazid bin muawiyah tidak pernah untuk membunuh Al Husain bin Ali di karbala. pasukan yang di pimpin oleh Ubaidullah bin Ziyad di kirim oleh Yazid ke daerah khuffah untuk meredam kekacauan di sana, di saat ketika pasukan ini sampai di khuffah posisi Al Husain masih di Makkah dan belum berangkat ke khuffah. Jadi, jika kita sudah memahami bahwa Yazid mengutus Ubaidullah ke khuffah bukan untuk membunuh Al husain. Yang berarti inisiatif untuk membunuh Al Husain adalah inisiatif Ubaidullah sendiri bukan perintah dari Yazid bin Muawiyah. karena jika sasaran Yazid adalah Al Husain tentu saja ia akan mengirim Ubaidullah ke Makkah karena Al Husain berada di Makkah. jadi disini penulis sudah memahami jika Yazid bin Muawiyah tidak bersalah dalam masalah ini. kemudian mengapa Al Husain berangkat menuju khuffah dengan hanya membawa pengawal yang tidak banyak? Dengan Hanya membawa keluarganya saja sekitar kira kira 73 orang , hal itu karena orang-orang khuffah teralalu memberikan iming-iming kepada Al Husain, orang-orang khuffah di Irak mengira sebenarnya sudah dikenal sebagai orang-orang penuh dengan tipu daya Ali bin Thalib sendiri yang wafat di tangan mereka sehingga ada isu istiliah orang-orang khuffah itu hatinya untuk Ali bin Abi Thalib tetapi pedang-pedang mereka mengahabisi Ali bin Abi Thalib dan keluarganya. orang-orang khuffah memberikan iming-iming kepada Al Husain akan memberikan baiat mereka kepada Al Husain karena mereka tidak suka dengan Yazid, bukan hanya baiat tetapi juga pasukan besar dan juga dukungan yang dari seluruh penduduk irak , mulainya Al Husain tidak langsung percaya kabar itu , maka ia mengirimkan Muslim bin Aqil bin Abi Thalib yaitu sepupu Al Husein menuju ke khfufah untuk melihat keadaan lokasi tersebut, ketika sampai di khuffah muslim menemukan penduduk irak menghendaki Al Husein yang menjadi khalifah, sehingga mereka pun membaitkan Al Husein melalui Muslim bin Aqil. para musisi Al Husein dan muslim sama sekali tidak mengetahui tentang busuknya orang-orang khuffah ini padahal hakikatknya mereka ini lah orang-orang yang paling tidak berpinsip di dalam membela Al Husein, ketika Ubaidullah bin Ziyad di utus oleh yazid bin muawiyah ke khuffah untuk meredakan gejolak di khuffah. malahan, orang-orang khuffah justru ketakutan dan meninggalkan Muslim bin Aqil dengan kira-kira 30 orang pengwalnya , sedangkan di saat itu Ubdaidullah membawa kira-kira mungkin 1000 pasukan , para orang-orang yang katanya mendukung Al Husein justru mereka itu pengecut sejati, mereka meninggalkan Muslim bin Aqil dengan 30 orang pegawalnya, muslim pun di tangkap dan dibunuh oleh Ubaidullah. dan harus di ingat kembali, bahwa yang membunuh Muslim bin Aqil adalah inisiatif Ubaidullah itu sendiri bukan perintah Yazid , karena Yazid bin Muawiyah mengutus Ubadiullah ke khuffah untuk meredam gejolak orang-orang khuffah yang sudah ia ketahui seperti apa watak dan sifat mereka , orang-orang khuffah penuh dengan tipu daya dan licik, sekali lagi penulis ingatkan bahwa Ali bin Abi Thalib gugur di tangan mereka yaitu orang-orang khuffah , Al Husein sendiri tidak tahu apa yang terjadi di Khuffah saat itu , ia berangkat menuju Khuffah karena melihat adanya maslahat dengan hadirnya beliau di sana , beliau hanya membawa 73 orang keluarganya saja, hal ini menujukkan bahwa Al Husein percaya kepada orang-orang khuffah yang berjajnji memberikan dukungan baiat kepada mereka Al Husein , para sahabat rasul saat itu masih hidup seperti Sayid Al Khudri dan juga keluarga Nabi seperti Ibnu Abbas , telah memberikan saran kepada Al Husein untuk tidak berangkat ke Khuffah , mereka telah mengingatkan Al Husein bahwa ayahnya Ali bin Abi Thalib , gugur karena orang orang khuffah , namun Al Husein berangkat dengan rasa bimbang akan baik dan buruknya, lalu ketika Al Husein di pertengahan jalan beliau mendapatkan kabar bohong, bahwa Muslim bin aqil telah di bunuh di Khuffah, Al Husein pun sadar keputusannya ke khuffah adalah sesuatu yang salah , namun keluarga muslim mendesak Al Husein , mereka menuntut Al Husein mencari keadilan atas terbunuhnya Muslim bin Aqil, maka Al Husein pun melanjutkan perjalanan menuju khuffah ketika beliau sampai di karbala , beliau bertemu dengan pasukan yang di bawa oleh Ubaidullah bin Ziyad, disana lah pertempuran yang tidak seimbang itu terjadi , dan disni lah tipu daya orang-orang khuffah berulah , ketika mereka mengetahui Al Husein datang menuju Khuffah mereka tidak memberikan sambutan sama sekali dan ketika terjadi pertemuran di karbala , tidak ada satupun batang hidung orang-orang khuffah yang memberikan pertolonga kepada Al Husein , dan dari sinilah penulis paham bahwa orang-orang Syiah itu jahat busuk akan jiwanya , setelah orang-orang Ubaidullah bin Ziyad membunuh Al Husein dan memenggal kepalanya para ahlul bait dan orang-orang yang mengikuti Al Husein , mereka meletakkan Al Husein di dalam suatu bejana , dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam bukhari di nomor 3748, sangat jelas kali bahwa pembunuh Al Husein di karabala adalah pasukan Ubadiullah bin Ziyad , padahal Ubaidullah bin Ziyad adalah pendukung Ali pada perang Shiffin , dan membela ali pada saat itu , tetapi dengan tanganya itulah Al Husein gugur sebagai seorang syekh, meskipun Yazid bin Umaiyyah tidak bersalah di dalam ini, tapi para ulama sejarah menyalahkan yazid dalam satu hal yaitu , beliau tidak menangkap Ubadiullah dan mengkhisos Ubadiullah , padahal dia sudah jelas menyalahi perintah Yazid dan membunuh Al Husein beserta Alul bait bersamanya dengan sangat keji dan melampaui batas, karena itulah banyak orang-orang menuduh hal-hal negatif kepada Yazid bin Umaiyah Kira-kira itulah sejarah singkat yang penulis bisa sampaikan semoga dari sini bagi para pembaca bisa mengambil pelajaran bahwa dalam menyikapi dalam suatu hal kita harus mengambil jalur tengah yaitu tidak berlebihan dan juga tidak meremehkan, dan kita juga mengambil jalur yang paling shahih karena itu yang paling aman dari pada bakalan timbul sebuah fitnah di massa yang akan datang. sejarah karbala agama Disclaimer Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku UU Pers, UU ITE, dan KUHP. Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel. Berita Terkait Terpopuler di Sejarah
nasib pembunuh husain bin ali